Langsung ke konten utama

Misteri 212





         Disebuah desa bernama desa Lowokwaru di kepulauan Jawa. Aku (Renata) dan suamiku (Bram) serta anak pertamaku (Ria) yang masih berusia 10 tahun kehidupan kami sangat harmonis awalnya, hingga aku dikaruniai anak ke 2 yang sekarang masih dalam kandungan. Kami hidup bahagia disana sebelum akhirnya kami menempati rumah peninggalan romo (eyang) dan kejadian-kejadian terkutuk itu pun dimulai...................................

 

Kami tinggal disuatu desa yang masih kental akan mitos dan tradisi kejawen,dan aku pun terlahir dari keluarga yang masih meyakini sesajen atau apapun yang berbau mistis namun sepertinya Bram tidak terlalu mempercayai itu karena di zaman yang maju seperti ini semua hal bisa dijelaskan secara logika tanpa adanya unsur mistis, pikirnya.

Setiap kami terbangun di pagi hari selalu banyak sesajen di setiap rumah warga dengan bau khasnya dan selalu ada taburan bunga di sepanjang jalan desa, konon katanya tradisi itu mampu mengusir roh jahat yang ada pada desa ini, serta mampu menjauhkan setiap kesialan. Setiap malam jumat pun selalu ada acara siraman bagi wanita hamil agar setiap wanita dan bayi yang ia kandung dijauhkan dari segala malapetaka. Aku sering kali mengikuti acara tersebut karena paksaan orang tuaku terutama romo (eyang) seseorang yang cukup terkenal didesa atas ilmu kejawen nya.

‘’nanti kamu jadi ikut acara siraman lagi?’’ tanya Bram

‘’iya mas, mau gimana lagi sudah tradisi’’ jawabku sambil memasak untuk sarapan pagi ini.

‘’jujur aku gak percaya hal bodoh seperti itu, malah buang-buang waktu kita saja’’ ujar Bram dengan raut wajah kesal.

‘’ ya gimana lagi mas, aku juga gak bisa nolak permintaan bapak dan ibuk apalagi mas tau sendiri romo tradisinya kental banget gitu’’ jawabku.

Wajar saja Bram sangat menentang hal seperti itu karena dia terlahir dikota dengan kepribadian dan culture yang sangat berbeda dengan aku dan keluargaku, namun dia selalu mencoba menerima setiap keputusan ataupun tradisi yang kami  jalani itulah yang membuatku sangat mencintainya.

Keesokan harinya tiba-tiba ibuk dan bapak datang kerumah bersama romo, awalnya aku tidak tau apa maksut dan tujuan mereka datang kemari.

‘’ loh ibu sama bapak kenapa gak ngmong dulu kalau mau kerumah, kan Renata bisa siapin makanan’’ ujarku sambil mempersilahkan masuk.

‘’halah seperti siapa saja nduk, ibuk sama bapakmu cuman kangen saja sama kalian berdua’’ jawab ibuk sambil tersenyum

Kami pun lanjut bercengkerama diruang tamu, tiba-tiba di sela obrolan romo memotong pembicaraan kami.

‘’nduk.. le.. (panggilan anak perempuan dan laki-laki dalam bahasa jawa) ini kan rumah yang kalian tinggali sudah sangat kumuh dan tidak layak huni ada baiknya kalian pindah rumah saja atau mengontrak setidaknya, romo takut nanti ketika musim hujan rumah ini bisa roboh’’ kata romo.

Seketika aku dan Bram saling menatap seakan kita mempunyai pikiran yang sama, memang rumah ini sudah sangat rusuh namun kami juga tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli rumah baru.

‘’begini romo, bukan nya Bram dan Renata tidak mau tapi tabungan kami masih belum cukup untuk membeli rumah’’ jawab Bram yang sepertinya dia juga ragu ingin mengucapkan itu

‘’romo punya rumah yang sudah lama tidak ditinggali di ujung desa nomor 212 karena rumah itu cukup besar dan romo juga tidak sanggup membersihkan nya setiap hari, jadi romo biarkan saja kalian bisa menempatinya sesuka kalian rumah itu masih sangat bagus dan banyak peninggalan si mbokmu’’ ujar romo sambil terus membujuk kami.

Selang beberapa waktu aku dan Bram akhirnya setuju untuk menempati rumah itu tanpa berfikir panjang.

Keesokan harinya aku,Bram dan Ria segera membereskan segala barang,

‘’buk kita mau pindah rumah lagi ya?” kata Ria anakaku

‘’ iya nduk, kerumah romo yang lama’’ jawabku sambil memeberi sedikit senyuman.

Jarak rumah itu dan tempat tinggal kami yang sekarang tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 15 menit perjalanan. Sesampainya disana kami bertiga saling melihat sekeliling rumah tersebut, benar saja rumah itu terlihat lama tidak dihuni banyak akar pohon merambat di pagar rumah hingga beberapa pohon besar seakan mengelilingi rumah itu. Seketika tatapan ku tertuju pada pohon beringin lengkap dengan ayunan kayu dibawahnya, aku tidak mengerti mengapa aku terus menatap kearah ayunan itu seakan ada yang ingin menarikku kesana.

Kami bertigapun mulai masuk kedalam bangunan itu, tidak seburuk yang kami pikirkan keadaan di dalam nya masih bagus lengkap dengan lukisan tua dan berbagai perabotan lainnya yang masih tertutup rapi dengan kain putih. Seperti biasa romo memang suka mengoleksi barang antik di setiap sudut rumah dan aku tidak berani memindahkan apa yang sudah terpasang.

‘’kita mau mulai bersih-bersih kapan?” tanya Bram

“hari ini juga” jawabku sambil tersenyum.

Awal nya aku mengira semua akan baik-baik saja dengan rumah ini, namun tidak ketika suatu saat kami mendapat kabar bahwa romo mengalami serangan jantung yang mengakibatkan nyawanya terenggut, kami sangat merasa kehilangan waktu itu.

Selang beberapa minggu Bram memutuskan untuk merombak segala isi dari rumah peninggalan romo itu, kami sempat bertengkar hebat waktu itu karena aku tidak setuju jika rumah itu rombak karena pamali kata orang jawa, aku takut sesuatu hal terjadi kepada kami bertiga.

Pagi itu aku terbagun dari tidur ku dan melihat seisi rumah sudah tidak  terletak pada tempat semulanya dan kendi bertutupkan kain merah dibawah lukisan jawa juga ikut berpindah tempat.

‘’mas...mas..!! kok rumah nya jadi gini sih mas, kendi disini dimana dan guci-guci romo semuanya mas pindahin kemana?” teriakku sambil terus mencari-cari.

‘’apasih ren, gucinya mas taruh digudang sama lukisan aneh itu, mas yang pindah tadi malam waktu kamu tidur dan kendi itu mas sengaja buang karena didalam nya ada bangkai tikus jadi aku buang saja..’’ Jawab Bram sambil membawa segelas kopi dari dapur dan tidak merasa bersalah sama sekali.

‘’ha?? Gila kamu ya?’’jawabku dengan marah

Aku yang sontak mendengar hal itu terkejut dan marah, karena romo pernah berpesan padaku sebelum kami pindah kerumah ini untuk tidak memindahkan apapun yang di dalamnya.

Mulai saat itu kejadian misterius mulai menerorku mulai dari ketukan pintu di malam hari, pecahan gelas didapur hingga suara alunan gamelan yang selalu terdengan di ruang bawah tanah.

Kejadian itu semakin menjadi-jadi ketika Ria anak ku sering mengalami kesurupan ketika ia bermain di ayunan dihalaman rumah.

‘’mas  aku merasa ada yang aneh dirumah ini’’ kataku sambil ketakutan

‘’aneh apa sih ren, aku tidak merasakan apa-apa’’ jawa Bram yang selalu menyepelekan keluhan ku

Pada saat itu tiba-tiba aku terbangun jam 1 pagi dini hari, karena merasa haus lalu aku beranjak pergi ke dapur. Pada saat aku mengambil gelas, aku melihat sebuah tangan tanpa tubuh berlumuran darah keluar dari sela-sela meja dapur sontak saja aku berteriak dan berlari menuju kamar ,semakin aku berlari aku mendengar cekikan tawa seorang anak kecil yang semakin lama semakin mendekat di telingaku.

Saat aku menceritakan kejadian itu ataupun segala mimpi buruk yang aku alami Bram selalu saja menganggap bahwa aku berhalusinasi.

Sampai suatu hari pukul 17.00 wib , Bram pulang kerja dan seperti biasa selalu minta dibuatkan segelas kopi panas.

“Ria kemana? Apa dia dikamar aku belum melihatnya dari tadi’’ tanya Bram

Seketika aku juga baru teringat kalau dari tadi siang aku tidak melihat Ria di ruang tamu bahkan dikamarnya,

‘’ aku fikir dia sedang bermain ayunan dihalaman, kamu tidak melihatnya tadi?’ tanyaku.

‘’ tidak, tidak ada siapa-siapa diluar’’

Kami pun bergegas keluar dan mencari Ria di halaman dan segala ruangan dirumah, namun tidak kunjung ketemu, kamipun sangat kuatir saat itu dan mencoba  untuk melporkan kejadian kehilangan kepada polisi. Tidur kami sangat tidak nyenyak memikirkan Ria.

Seperti biasa ketukan pintu itu selalu mengganggu ku di setiap malam, namun aneh nya hanya aku yang bisa mendengar.

Keesokan pagi aku mendengar suara Ria dari arah gudang bawah tanah memanggilku, awalnya suara itu seperti memanggil namun lama kelamaan menjadi suara wanita dewasa dengan kalimat "Kowe Kabeh ngundang kematianmu Dewe" (kalian semualah yang mengundang kematianmu sendiri) suara itu terus berbisik makan lebih keras dan lebih keras lagi.

Akupun berlari menuju Bram, aku merasa kejanggalan ini tidak bisa didiamkan lagi. Aku dan Pram berniat memanggil orang pintar yang ada di desaku untuk membantu kami menemukan Ria.

Aku meminta tolong Mbah Joyo salah satu orang pintar terkenal di desaku setelah Romo untuk membantu kami. Beliau datang membawa segala peralatan yang ia butuhkan untuk mengusir roh jahat dan membawa kembali ria.

"Mbah tolong kami, kami tidak tahu harus berbuat apalagi anak kami tiba-tiba menghilang dan sosok itu seakan ingin membunuh kami secara perlahan" ucapku kepada Mbah Joyo.

Setelah bermeditasi dan berusaha keras akhirnya kami bertiga duduk sebentar untuk berbicara tentang kejanggalan-kejanggalan di rumah kami.

"Apa yang sudah kalian perbuat?" kata Mbah Joyo yang tiba-tiba seakan mengetahui semuanya.

Lalu aku pun mulai menceritakan semuanya mulai dari kepindahan kami ke rumah ini, perombakan seisi rumah yang dilakukan oleh Bram hingga kejadian-kejadian yang aku alami.

Setelah kami berbicara cukup lama Mbah Joyo memutuskan untuk kembali lagi besok dengan membawa beberapa syarat untuk mengusir roh jahat itu.

Malam pun tiba aku kembali mendengar ria berteriak-teriak memanggil ku, suara itu sekarang terdengar di belakang rumah tepat di ayunan yang sering kali dimainkan oleh ria.

Saat aku mendengar suara itu aku melihat Bram sudah tidak ada di samping tempat tidurku, lalu ketika aku mendengar suara ria semakin jelas aku mengintipnya dari balik jendela dan aku melihat Bram sedang menggali sesuatu di dekat ayunan itu.

Aku pun bingung apa yang dilakukan Bram saat itu karena sudah larut malam sekali. Lalu aku menghampiri nya, saat langkahku mulai dekat dan aku berdiri di belakangnya aku pun menepuk pundak kiri Bram

"Mas kamu sedang apa malam-malam gini kok berkebun?"kataku dengan suara lirih

Beberapa kali aku mencoba untuk bertanya kepadanya tapi tidak satupun pertanyaanku dijawab oleh Bram. Sontak saja aku kesal dan memberanikan diri melihat apa yang sebenarnya Bram kubur. 

Dan aku sangat terkejut ternyata yang dia kubur adalah ria anak kami sendiri, dan sangat terlihat saat itu ria sudah tidak bernyawa lantas aku langsung memukul dan berteriak-teriak kepada Bram mengapa ia tega melakukan itu namun tidak ada sahutan sedikitpun bahkan tatapan Bram saat itu kosong tidak ada ekspresi apapun.

"Bram hentikan itu anakmu sendiri ria yang selama ini kita cari kamu tega membunuh nya gila kamu mas....."kataku sambil terus memukul dan menangis tak henti henti.

Seketika Bram jatuh pingsan di hadapanku dan aku terus menggali gali jasad dari ria. Aku yang menangis sejadi-jadinya meratapi kepergian anakku.

Berhari-hari aku seperti orang gila tidak makan ataupun minum aku hanya menangis didalam kamar memandangi segala foto anaku Ria dan anak yang ada di dalam kandunganku yang kian membesar.

Dan semenjak itu pula Bram suamiku jatuh sakit, dia tidak bisa bicara dan tidak bisa berjalan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa kali aku mencoba membawa Bram ke rumah sakit namun kata dokter sarafnya baik-baik saja namun dia tidak bisa bicara sama sekali dan bergerak seperti menderita kelumpuhan.

Kekacauan tidak berhenti sampai disitu, setiap malam aku selalu melihat bercak darah di setiap ruang tamu bahkan cap telapak tangan anak kecil di setiap tembok dapur. 

Sore hari itu aku pulang dari pasar tiba-tiba aku melihat suamiku Bram berdiri di pintu dapur, aku sangat terkejut karena yang aku tahu dia sedang sakit jangan pun untuk berdiri untuk bergerak meluruskan kaki saja dia tidak bisa, ini sangat aneh.

Saat aku menatapnya tiba-tiba dia bergerak membalikan badannya ke arahku, matanya hitam bibirnya pucat dengan ekspresi muka yang sangat menyeramkan. Di tangan kanannya memegang pisau yang sudah berlumuran darah dan tangan yang satunya sudah banyak bekas sayatan dari pisau yang dia bawa.

Akupun terkejut lantas aku teriak kepada Bram agar dia sadar, semakin aku berteriak dia semakin mengeluarkan cekikan tawa yang mengerikan. Semakin lama ia mendekatiku aku pun semakin takut, aku takut dia akan membunuhku dengan pisau yang dia bawa dan benar saja dia mulai mengangkat pisau itu ke arahku lalu akupun berlari ke arah keluar meminta tolong kepada semua orang tapi tidak satupun mendengarku.

Aku pun terus berlari ke rumah ibu dan bapak menceritakan kejadian yang terjadi. Awalnya mereka tidak percaya namun setelah aku jelaskan dari awal akhirnya ibu dan bapak mau membantu aku untuk mengusir roh iblis itu.

"Nduk ini semua terjadi karena kalian tidak menuruti apa pesan Romo, rumah itu bukan sembarang rumah. Rumah itu adalah petuah yang dulu pemilik pertama dari rumah itu adalah penganut ilmu hitam yang dibakar massa oleh orang kampung dan arwahnya sempat bergentayangan di desa ini namun Romo mu sudah mengunci roh iblis itu ke dalam kendi yang kalian buang, sekarang roh itu bebas lagi dan mengincar nyawa setiap penghuninya" kata ibu mencoba membenarkan kejadian yang aku alami.

"Lalu Renata harus bagaimana Bu? Renata sudah kehilangan Ria, Renata tidak mau kehilangan mas Bram Bu" kataku sambil terus memohon agar ibu mau membantuku.

"Kalian berdua harus melakukan ritual kedusan dimana ritual itu adalah ritual pengampunan atas kesalahan kalian serta penguncian atas roh iblis itu" ujan ibuku.

Sejujurnya aku tidak pernah tau ritual macam apa itu, namun apapun yang terjadi aku akan tetap melakukan ritual itu agar roh iblis tidak lagi mengganggu keluargaku.

Keesokan harinya aku beserta orang tuaku pergi ke rumah itu. Lalu aku membangunkan Bram dan mengajaknya untuk melakukan ritual kedusan.

Ritual itu berjalan tidaklah mudah berbagai gangguan yang terjadi mulai dari angin yang tiba-tiba berhembus kencang ke arah rumah kami hingga hujan dan sambaran petir dimana-mana dan segerombolan kelelawar yang tiba-tiba masuk ke rumah kami entah dari mana.

Ibuku sendirilah yang memimpin ritual itu aku berharap tidak ada hal buruk yang terjadi.

Waktu ritual itu berjalan tiba-tiba mas Bram kesurupan, bapak mencoba memeganginya dan membacakan beberapa mantra serta mengikat kedua tangannya dengan tali berwarna merah.

Keadaan itu semakin parah ketika tiba-tiba perut ku merasa sangat sakit hingga keluar darah di mana-mana aku merasakan sangat nyeri di perut ku aku takut jika ada sesuatu yang terjadi dengan kandungan ku.

"Tahan ya nduk, kalian harus lewati ritual ini sampai selesai jika tidak semua akan mati disini"kata ibuku sambil sambil terus melakukan ritual itu.

"Perutku sakit sekali Bu, seperti ada yang mencakar cakar perutku dari dalam" kataku sambil terus menangis.

Aku tak kuasa rasa sakit itu semakin lama membuatku ingin mati saja namun aku terus mencoba bertahan hingga ritual ini selesai.

Saat ibu membacakan mantra dan doa-doa seketika ibu mengeluarkan satu kendi yang sama persis dengan kendi Romo yang telah dibuang mas Bram. Setelah kejadian menegangkan itu terjadi jika tiba suasana menjadi hening dan mas Bram sadar kembali .

"Alhamdulillah roh iblis itu berhasil ibu kunci, biarlah kendi ini tetap di rumah ini jangan kalian berani memindahkan atau membuang kendi ini lagi atau kalian yang akan menanggung akibatnya"kata ibuku.

Aku yang sudah sekarat karena pendarahan pada perutku mereka segera melarikan aku ke rumah sakit terdekat. Akhirnya aku melakukan persalinan detik itu juga yang sebenarnya belum waktunya aku melahirkan.

Keesokan harinya setelah aku melakukan persalinan aku melihat bayi kita tumbuh dengan cantik dan aku mulai lega bisa melihat mas Bram, ibu dan bapak tanpa rasa khawatir lagi.

Waktu kepulangan kami dari rumah sakit Aku dan mas Bram memutuskan untuk mengontrak saja dan tidak menempati rumah peninggalan Romo lagi. Biarlah rumah itu kosong dengan ceritanya kami tidak ingin mengambil resiko apapun karena kehilangan anak kami Ria itu sudah menjadi hal terburuk yang kami sesali seumur hidup.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Sudah) SELESAI

     Di kota ini adalah awal langkah terberat di hidupku, menopang beban dari kerasnya kota metropolitan dan ketidakadilan sang pencipta dimana aku berusaha sekuat tenaga menjadi seorang kakak sekaligus orang tua bagi adik ku. Nadira namanya, gadis berumur 10 tahun yang menderita kanker sel darah  putih atau yang sering disebut leukima sejak dia berumur 1 tahun, yang harus merasakan sakit yang teramat pada bagian kepala dan sering kali mengeluarkan darah pada bagian hidung/mimisan,serta harus meminum ratusan obat-obatan itu untuk menyambung hidup nya.     Dan aku Rindu, seorang remaja yang akan melakukan apapun demi kesembuhan adiknya sekalipun harus menjadikan dirinya sebagai seorang kupu-kupu malam, menjatuhkan harga dirinya untuk membeli sesuap nasi dan perawatan adiknya. Kedua orang tua kami meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan maut yang membuat kami hidup sebatang kara tanpa arah dan tujuan, Nadira tak pernah tau apa pekerjaaan ku selama ini, aku pun tak sampai hati menceritak

Rintik sendu di atap tendaku

Pendakian ini adalah kali kedua setelah sekian lama menutup pintu rumah dan menutup mata akan bising nya kota dan kata-kata itu.Berharap otak ini mampu lupa akan banyak hal dan semua yang terjadi, dan berharap di atas sana bisa membuang satu nama yang sengaja aku bawa hingga kepuncak, dan menguburnya di atas sana agar tak satupun tersisa sampai dirumah. Konon katanya gunung adalah tempat pelarian terbaik untuk segala gundah dan resah hatimu, aku tak pernah percaya mitos itu namun untuk pertama kalinya aku berharap itu benar-benar nyata. Kami berangkat berempat setelah lama berunding, dan kami memutuskan akan melakukan pendakian di hari minggu di pertengahan bulan Juli di salah satu gunung terkenal di Jawa Timur. Dito,Vivi,Sakti, dan aku Kumala. Aku bergegas menelfon Dito sebelum keberangkatan, "Dit..tunggu gue di bc biasa ya, habis ini gue nyusul" kataku "iya mal, santai aja" ujar dito Kami memutuskan untuk stay di basecamp pukul 2 sore dan seperti biasa, dalam pend

When God is between us (kata kita)

        (My name is koala)          Dia adalah Genta mahendra biasanya di panggil Genta yang dalam warga hindu artinya permulaan yang baik .Dia asli Bali dan aku Ayu sholiha dari Jakarta. Aku melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Bali dan memutuskan untuk tinggal disana semenjak keluarga berpisah, karena ayahku asli Bali dan islam. Aku dan Genta bertemu di satu universitas dan menjadi teman sekelas, kami sangat berteman baik selama 5 semester.           Genta adalah orang yang baik, yang seringkali mengerjakan tugasku hingga segala makalah dan proposal dia yang mengerjakan, dia juga mahasiswa yang pintar hingga mendapat predikat terbaik di kampus. Beda sekali denganku yang pemalas dan bodoh hingga banyak yang menyebut kita sebagai si koala dan dolphin. Meskipun kita berbeda namun kita tetap bisa menjadi sahabat yang solid, bahkan ketika aku lupa mengerjakan tugas, Genta selalu menjadi alarm otomatis di setiap kepikunanku.           Waktu di taman kampus sembari mengerjaka