Langsung ke konten utama

Postingan

Misteri 212

          Disebuah desa bernama desa Lowokwaru di kepulauan Jawa. Aku (Renata) dan suamiku (Bram) serta anak pertamaku (Ria) yang masih berusia 10 tahun kehidupan kami sangat harmonis awalnya, hingga aku dikaruniai anak ke 2 yang sekarang masih dalam kandungan. Kami hidup bahagia disana sebelum akhirnya kami menempati rumah peninggalan romo (eyang) dan kejadian-kejadian terkutuk itu pun dimulai...................................   Kami tinggal disuatu desa yang masih kental akan mitos dan tradisi kejawen,dan aku pun terlahir dari keluarga yang masih meyakini sesajen atau apapun yang berbau mistis namun sepertinya Bram tidak terlalu mempercayai itu karena di zaman yang maju seperti ini semua hal bisa dijelaskan secara logika tanpa adanya unsur mistis, pikirnya. Setiap kami terbangun di pagi hari selalu banyak sesajen di setiap rumah warga dengan bau khasnya dan selalu ada taburan bunga di sepanjang jalan desa, konon katanya tradisi itu mampu mengusir roh jahat yang ada pada desa i
Postingan terbaru

Retak Berserakan

 Swara djiwa` Tunggulah!! Kedai ini sengaja kupesan penuh untuk merayakan pesta kehilanganmu Aku masih ingat rintikan hujan dibulan april, aroma daun gugur serasa tidak asing di indera penciumanku dan suara bisingnya merayuku untuk tetap tinggal. Tidak ada yang paling aku suka selain gemericik air pertanda kau sudah kembali, percayalah tidak akan ada rahasia setelah ini. Terhapusnya setiap jejak-jejak langkah kaki dipersimpangan menciptakan keraguan atas jalan yang kau lewati. Kita bertemu kembali pada titik nol dari waktu yang sempat memuai, memang terlanjur usang bahkan sudah sangat berdebu. Kita hanya duduk berdua saja, aku memesan segelas kerinduan dengan senyuman manis sebagai pelengkap, ntah kau memesan apa. Aku memesan semangkuk topik sebagai hidangan pembuka agar pembicaraan kita tak lagi sedingin rintik hujan diluar jendela. Kita duduk diantara bola mata yang pernah saling menatap, diantara bibir yang pernah saling menyapa ,menertawakan hidup menertawakan fatamorgana. Aku meme

Rangka lusuh

Swara djiwa` Pesan itu tidak sampai! Barangkali kau lupa atau memang sengaja tidak kau kirim? Aku ingat waktu pertama kali melihatmu. Kau datang tanpa permisi dengan senyum manis tepat bersamaan dengan senja datang. Sejak detik itu pikiranku mulai penuh, sengaja berlarian di fikiranku siang hingga malam. Aku kira ini hal yang wajar sebab hati memang suka bermain-main pada setiap tokoh nya. Aku tidak pernah menduga secarik kertas putih sampai kerumah, dengan warna biru manis pertanda hal yang baik. Konon katanya jika secarik kertas datang tiba-tiba tanpa kau sangka, akan ada kode bahagia di setiap kata yang kau terima.  Yahh benar saja, sapaan demi sapaan tertulis dengan rapi. Aku tidak ingin berdrama dengan keadaan namun aku sangat tergila-gila dengan setiap pesan yang kau kirim, aku tidak tau tapi aku enggan bisa mengeluarkan mu dari isi kepalaku. Entah lah perihal apa ini, bukan apa yang ada pada dirimu namun jika kau percaya, dengan mu aku merasa baik-baik saja (semoga kau juga). Ka

Diagnosa

Mengapa aku berbeda? "stop thinking that I'm crazy,aku tidak gilaaa...." Bisikan-bisikan itu seakan mengajakku menuju ketempat yang gelap melakukan berbagai hal yang mestinya tidak dilakukan oleh orang normal pada umumnya.Tidak ada yang bisa membantuku keluar dari ruangan gelap itu,semua orang menjahuiku mereka menyebutku monster. "dio...dio... bangun nak''  Seketika terdengar suara wanita memanggilku suaranya sangat dekat hingga membuatku terbangun dari mimpi buruk itu, ialah mama orang satu-satunya yang masih mempercayaiku bahwa aku masih normal. "hari ini kita ada jadwal bersama dokter Andre ditempat biasa, bangun dan segera ambil sarapanmu kita akan berangkat lebih pagi sayang....'' ''ke psikiater lagi mah?bulan lalu kan kita sudah kesana'' ''iya dio....dokter Andre ingin bertemu denganmu dia sangat merindukan cerita-cerita luar biasa kamu'' Kata-kata itu selalu terucapkan, ia berusaha membuatku tenang agar tid

(Sudah) SELESAI

     Di kota ini adalah awal langkah terberat di hidupku, menopang beban dari kerasnya kota metropolitan dan ketidakadilan sang pencipta dimana aku berusaha sekuat tenaga menjadi seorang kakak sekaligus orang tua bagi adik ku. Nadira namanya, gadis berumur 10 tahun yang menderita kanker sel darah  putih atau yang sering disebut leukima sejak dia berumur 1 tahun, yang harus merasakan sakit yang teramat pada bagian kepala dan sering kali mengeluarkan darah pada bagian hidung/mimisan,serta harus meminum ratusan obat-obatan itu untuk menyambung hidup nya.     Dan aku Rindu, seorang remaja yang akan melakukan apapun demi kesembuhan adiknya sekalipun harus menjadikan dirinya sebagai seorang kupu-kupu malam, menjatuhkan harga dirinya untuk membeli sesuap nasi dan perawatan adiknya. Kedua orang tua kami meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan maut yang membuat kami hidup sebatang kara tanpa arah dan tujuan, Nadira tak pernah tau apa pekerjaaan ku selama ini, aku pun tak sampai hati menceritak

Perempuan bercadar hitam itu?

 Lateefa Halimah.     Kata siapa bahwa hubungan yang lama akan menjamin hidup bahagia dan happy ending ini bukan sinetron atau film ftv kan, bisa saja kau hanya akan menjadi teman atau  penyemangat hidup nya saja, tidak ada yang tau bukan? Kisah ini berawal saat kami wisuda di salah satu kampus terbesar di Jakarta, terlihat baik-baik saja dan acara berjalan dengan baik.Dengan menggunakan toga dan kebaya yang indah membuatku merasa sangat cantik bak seorang putri keraton.Lalu lalang mahasiswa lain nampak menghiasi aula kampus, saling berjaba tangan, mengabadikan moment, hingga berbicara rencana kedepan setelah ini. Ada yang langsung menikah, ada yang mau bekerja di perusahaan besar bahkan juga ada yang mau rebahan dulu menikmati masa kebebasan tanpa buku dan tugas. Aku hanya bisa tersenyum waktu itu.       Aku mencari sosok di aula itu, sosok yang sangat penting bagiku. Dan dia ada di bangku paling belakang dekat pintu keluar bersama segerombolan teman sekelasnya lengkap memakai atribut

Rintik sendu di atap tendaku

Pendakian ini adalah kali kedua setelah sekian lama menutup pintu rumah dan menutup mata akan bising nya kota dan kata-kata itu.Berharap otak ini mampu lupa akan banyak hal dan semua yang terjadi, dan berharap di atas sana bisa membuang satu nama yang sengaja aku bawa hingga kepuncak, dan menguburnya di atas sana agar tak satupun tersisa sampai dirumah. Konon katanya gunung adalah tempat pelarian terbaik untuk segala gundah dan resah hatimu, aku tak pernah percaya mitos itu namun untuk pertama kalinya aku berharap itu benar-benar nyata. Kami berangkat berempat setelah lama berunding, dan kami memutuskan akan melakukan pendakian di hari minggu di pertengahan bulan Juli di salah satu gunung terkenal di Jawa Timur. Dito,Vivi,Sakti, dan aku Kumala. Aku bergegas menelfon Dito sebelum keberangkatan, "Dit..tunggu gue di bc biasa ya, habis ini gue nyusul" kataku "iya mal, santai aja" ujar dito Kami memutuskan untuk stay di basecamp pukul 2 sore dan seperti biasa, dalam pend