Langsung ke konten utama

Kosong

part 1*

LANGKAH AWAL


Menjadi seorang istri tidaklah mudah bagiku,  setiap hari terasa melelahkan. Menjalani hari-hari yang kosong setengah dari masa hidupku. Aku merasakan cinta dan kasih sayang namun tidak dengan kebebasanku.

Aku kira semua akan baik-baik saja, mimpi-mimpi akan tetap terwujud seperti anganku waktu itu, ternyata tidak. 

Yang terlintas hanya menu sarapan yang akan aku masak besok, cucian yang menumpuk, hingga bagaimana cara untuk aku mempunyai rumah sendiri kelak. Sedikit gila memang, tapi harus bisa. 

Menjadi seorang istri yang tinggal dengan mertua juga bukan hal yang mudah, kadang mertua merasa tidak masalah namun orang lain yang mempermasalahkan . Rasa sungkan yang menghantui setiap menit juga cukup membuat mental ku kacau.

Beradaptasi dengan saudara yang super cerewet juga membuatku mati kutu dibuatnya. Kadang merasa lelah dan jengkel, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kata-kata yang menyakiti hati kadang tak sampai aku keluhkan kepada suami, takut menjadi beban. 

Pekerjaan rumah yang aku kerjakan sendiripun kadang juga tidak ternilai oleh mereka, merasa seperti pembantu di rumah sendiri. Hal-hal yang membuat otak ini menjadi-jadi adalah lelahnya aku tak mereka rasakan namun ketika ingin beristirahat sejenak dibilang menantu pemalas.

Lalu bagaimana? mau berkomentar seperti apa lagi? 

Ingin ngontrak saja namun suami masih enggan untuk pindah, aku hanya bisa menghela nafas dan sedikit bersabar menanti tuhan menurunkan mukjizatnya.

Pernah terlintas di fikiranku untuk bekerja setelah menikah, namun ternyata tak semudah yang aku kira. Waktu yang tidak memungkin kan juga menjadi pertimbanganku, sepertinya suamiku juga tak mengizinkan. 

Jenuh, membosankan, hampir gila!! 

Itulah yang aku rasakan, tidak tau harus memulai dari mana. Sesekali aku berkunjung ke rumah ibuku yang memang tidak jauh dari rumah mertuaku yang aku tinggali saat ini.

Syukurlah rumah kami tidak jauh, aku masih ada tempat untuk menyegarkan pikiran, membuang segala aroma kegilaan ini ataupun sekedar numpang tidur. 

Entah mengapa setelah menikah aku merasa menjadi tamu di rumahku sendiri, tidak biasa ibuku membuatkan ku teh saat aku berkunjung kesana, apa mungkin hanya perasaanku saja.

Suasana hangat di rumahku yang belum pernah ku rasakan ketika lajang, kini terasa lebih menenangkan dan sangat hangat.

Aku tau ini masih sebagian kecil dari cerita rumah tanggaku, tapi aku selalu yakin akan ada banyak lika-liku lainnya yang harus aku terpa setelah ini. 

Sesuatu  yang kosong aku harap akan segera penuh dan harapan-harapan yang sempat sirna segeralah tumbuh kembali.

Tetap tersenyum dan hadapi dengan ikhlas.



Part 2*

RASA SYUKUR


Sebagian orang menganggap remeh tentang arti bersyukur, padahal jika kita dalami lagi arti bersyukur memiliki makna yang dalam.

Menghargai setiap lelah yang ada dan menerima setiap anugerah yang tuhan beri. Sesekali kita merasa kurang atas sebuah pencapaian, namun jika kita bandingkan kita masih jauh lebih beruntung dari sekian banyak orang di luar sana. 

Hasil-hasil yang kita raih setiap harinya adalah mimpi dari banyak orang, namun mengapa masih kurang? Yups, tidak bersyukur. 

Kita yang memiliki smartphone canggih kadang masih ingin membeli dengan tipe yang lebih bagus lagi, padahal banyak orang yang ingin mengerjakan tugas rela meminjam handphone teman nya. 

Kita yang hampir setiap hari membeli makanan enak kadang masih mengeluh dengan makanan yang itu-itu saja, padahal di sisi lain masih banyak orang yang makan dengan nasi dan garam.

Kadang ingin mengeluh dengan diri sendiri, namun malu dengan kenyataan yang masih mampu. 

Meyakinkan orang tentang rasa syukur sama hal nya dengan meyakinkan orang bahwa air mineral lebih sehat dibandingkan dengan air soda. 

Makanya tidak banyak orang mampu bersyukur dengan apa yang mereka miliki hari ini. 

Terkadang orang sederhana yang hanya mempunyai rumah kecil dengan banyak keluarga di dalamnya mereka hidup dengan tenang dan damai, walaupun hidup serba seadanya.

Namun para petinggi atau orang kaya kebanyakan sibuk berlomba-lomba membicarakan aset, liburan ke luar negri, berkompetisi,dan pada akhirnya juga korupsi. 

Terkadang memang sulit dipahami.

Banyak hal mudah yang terlihat berat dalam dunia ini dan banyak orang saling mempersulit diri sendiri.

Ketika orang lebih suka membandingkan kejayaan orang lain, tanpa mereka sadari mereka kehilangan kemampuan nya sendiri. Merasa dirinya serba kekurangan namun orang lain mati-matian berusaha mendapatkannya.

Konon katanya salah satu cara bersyukur adalah mencoba untuk menikmati apa yang kita punya hari ini, mecoba percaya akan diri sendiri, dan mulai berhenti berkaca pada cermin orang lain.

Mungkin terdengar sangat gampang, namun yang terjadi tetap saja menyalahkan diri sendiri. 

Barangkali apa yang kita dapatkan hari ini belum tentu bisa kita dapatkan di kemudian hari, lantas apa yang akan terjadi? Yah.. Mengeluh lagi, memang itu yang bisa mereka lakukan. Coba saja kita sedikit menghargai arti hidup dan apa saja yang terjadi di dalam nya, mungkin tak akan serumit itu. 

Namun pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa tidak sempurna dan tidak pernah merasa puas atas sesuatu yang ada di dalam nya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Misteri 212

          Disebuah desa bernama desa Lowokwaru di kepulauan Jawa. Aku (Renata) dan suamiku (Bram) serta anak pertamaku (Ria) yang masih berusia 10 tahun kehidupan kami sangat harmonis awalnya, hingga aku dikaruniai anak ke 2 yang sekarang masih dalam kandungan. Kami hidup bahagia disana sebelum akhirnya kami menempati rumah peninggalan romo (eyang) dan kejadian-kejadian terkutuk itu pun dimulai...................................   Kami tinggal disuatu desa yang masih kental akan mitos dan tradisi kejawen,dan aku pun terlahir dari keluarga yang masih meyakini sesajen atau apapun yang berbau mistis namun sepertinya Bram tidak terlalu mempercayai itu karena di zaman yang maju seperti ini semua hal bisa dijelaskan secara logika tanpa adanya unsur mistis, pikirnya. Setiap kami terbangun di pagi hari selalu banyak sesajen di setiap rumah warga dengan bau khasnya dan selalu ada taburan bunga di sepanjang jalan desa, konon katanya tradisi itu mampu mengusir roh jahat yang ada pada desa i

(Sudah) SELESAI

    Di kota ini adalah awal langkah terberat di hidupku, menopang beban dari kerasnya kota metropolitan dan ketidakadilan sang pencipta dimana aku berusaha sekuat tenaga menjadi seorang kakak sekaligus orang tua bagi adik ku. Nadira namanya, gadis berumur 10 tahun yang menderita kanker sel darah  putih atau yang sering disebut leukima sejak dia berumur 1 tahun, yang harus merasakan sakit yang teramat pada bagian kepala dan sering kali mengeluarkan darah pada bagian hidung/mimisan,serta harus meminum ratusan obat-obatan itu untuk menyambung hidup nya.     Dan aku Rindu, seorang remaja yang akan melakukan apapun demi kesembuhan adiknya sekalipun harus menjadikan dirinya sebagai seorang kupu-kupu malam, menjatuhkan harga dirinya untuk membeli sesuap nasi dan perawatan adiknya. Kedua orang tua kami meninggal 7 tahun lalu karena kecelakaan maut yang membuat kami hidup sebatang kara tanpa arah dan tujuan, Nadira tak pernah tau apa pekerjaaan ku selama ini, aku pun tak sampai hati menceritaka

Diagnosa

Mengapa aku berbeda? "stop thinking that I'm crazy,aku tidak gilaaa...." Bisikan-bisikan itu seakan mengajakku menuju ketempat yang gelap melakukan berbagai hal yang mestinya tidak dilakukan oleh orang normal pada umumnya.Tidak ada yang bisa membantuku keluar dari ruangan gelap itu,semua orang menjahuiku mereka menyebutku monster. "dio...dio... bangun nak''  Seketika terdengar suara wanita memanggilku suaranya sangat dekat hingga membuatku terbangun dari mimpi buruk itu, ialah mama orang satu-satunya yang masih mempercayaiku bahwa aku masih normal. "hari ini kita ada jadwal bersama dokter Andre ditempat biasa, bangun dan segera ambil sarapanmu kita akan berangkat lebih pagi sayang....'' ''ke psikiater lagi mah?bulan lalu kan kita sudah kesana'' ''iya dio....dokter Andre ingin bertemu denganmu dia sangat merindukan cerita-cerita luar biasa kamu'' Kata-kata itu selalu terucapkan, ia berusaha membuatku tenang agar tid